Efek Di Vonis Resesi, Pemulihan Ekonomi Indonesia Dibilang Cukup Lambat

  • Whatsapp
Efek Di Vonis Resesi, Pemulihan Ekonomi Indonesia Dibilang Cukup Lambat

Hercules99 – Ekonomi, Ekonomi Institute for Development of Economics and Finance (Indef), Bhima Yudhistira, menilai pemulihan ekonomi Indonesia berjalan lambat. Sesuai prediksinya, pertumbuhan ekonomi masih berada di zona resesi pada kuartal I 2021.

Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal I 2021 minus 0,74 persen.

Read More

Bhima mengatakan pada Rabu, 5 Mei 2021, bahwa tiada ada surprise apapun. Sementara negara mitra dagang utama seperti AS, Singapura dan China sudah keluar dari resesi. Ini artinya pemulihan ekonomi Indonesia terbilang lambat.

Konsumsi masih mengalami kontraksi cukup dalam -2,23 persen yoy, dan investasi juga masih negatif -0,23 persen khususnya investasi di sektor bangunan atau konstruksi dan peralatan lainnya.

Bhima mengatakan, itu bukti baik masyarakat dan dunia usaha masih butuh waktu untuk rebound.

Ia menjelaskan bahwa model pemulihan ekonomi juga berbentuk huruf K-shaped. Contohnya sektor transportasi masih terkontraksi -13,1 persen yoy, disusul akomodasi dan makan minum -7,26 persen yoy.

Sementara performa sektor infokom performa, mengalahkan sektor lain dengan tumbuh 8,72 persen. Menurutnya, terjadi ketimpangan antar sektor.

Masalah lain soal belanja pemerintah yang belum optimal. Pemerintah Daerah (Pemda) pemda masih lakukan pola anggaran yang sama dengan tahun lalu yakni parkir uang di bank sebesar Rp 182 triliun. Padahal, belanja Pemda dapat membantu pemulihan ekonomi.

Pengamat: Proses Pemulihan Ekonomi Indonesia Masih Dinilai Timpang

Menurut dia, Indonesia pada triwulan pertama tahun ini masih resesi lantaran proses pemulihan ekonomi yang masih timpang di masa pandemi Covid-19 saat ini.

Dia menganalogikannya dalam bentuk K-shaped, dimana pada sisi atas huruf menggambarkan adanya beberapa sektor yang booming di masa krisis, sementara pada sisi huruf K bagian bawah untuk menggambarkan sektor yang justru terkontraksi semakin dalam.

Bhima mengambil contoh sektor konsumsi yang mengalami kontraksi cukup dalam minus 2,23 persen secara tahunan. Kemudian sektor transportasi yang tumbuh negatif 13,1 persen, serta akomodasi dan makan minum yang minus 7,26 persen.

Di sisi lain, sektor Infokom secara performa justru tengah melambung dengan pertumbuhan positif mengalahkan yang lain hingga 8,72 persen.

Bima menambahkan, hal itu terjadi karena ada ketimpangan pada antar sektor.

Oleh karenanya, dia tak heran jika Indonesia saat ini masih berada di zona resesi dengan pertumbuhan ekonomi negatif 0,74 persen di kuartal I 2021.

Related posts

banner 468x60

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *