Ruang Azis Syamsuddin di Geledah DPR, KPK CarI Bukti Suap Penyidik Robin

  • Whatsapp
Ruang Azis Syamsuddin di Geledah DPR, KPK CarI Bukti Suap Penyidik Robin

Hercules99 – Politik, Penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menggeledah ruang wakil kedua DPR RI, Azis Syamsuddin, di Gedung Parlemen Senayan, Jakarta Barat.

Pelaksana Tugas (Plt) juru bicara KPK, Ali Fikri mengatakan, penggeledahan dilakukan untuk mencari bukti kasus dugaan suap ke penyidik Stepanus Robin Pattuju untuk tidak menaikkan perkara korupsi di Pemkot Tanjungbalai ke tingkat penyidikan.

Read More

Ali menyebut tim penyidik masih melakukan penggeledahan terhadap ruangan Azis. Ali berjanji akan membukanya ke publik terkait bukti yang ditemukan oleh penyidik nantinya.

Dalam kasus ini, KPK menjerat penyidiknya sendiri yaitu, AKP Stepanus Robin Pattuju, Pengacara Maskur Husain, dan Wali Kota Tanjung Balai, M Syahrial. Robin dan Maskur diduga menerima suap dari Syahrial senilai Rp.1,3 miliar dari komitmen fee Rp.1,5 miliar.

Suap dilakukan agar Robin membantu menghentikan penyelidikan kasus dugaan korupsi di Pemerintahan Kota (Pemkot) Tanjung Balai.

KPK menduga ada keterlibatan Wakil Ketua DPR RI, Azis Syamsuddin dalam kasus ini. KPK menduga Azis meminta Robin agar membantu mengurus perkara Syahrial di KPK. Azis Syamsuddin dan Syahrial merupakan Politikus partai Golkar.

Firli Bahuri, Ketua KPK menyebut, permintaan Azis kepada Robin bermula saat pertemuan yang dilakukan mereka di rumah dinas Azis Syamsuddin. Pertemuan tersebut terjadi pada Oktober 2020.

Menurut Firli, dalam pertemuan tersebut, Azis Syamsuddin mengenalkan Robin sebagai penyidik KPK kepada Syahrial. Saat itu, Syahrial tengah memiliki permasalahan terkait penyelidikan dugaan korupsi di Pemerintah Kota (Pemkot) Tanjung Balai yang sedang dilakukan KPK.

Pertemuan Sekaligus Pembuka Jalan Keluar

Firli mengatakan, usai pertemuan di rumah dinas Azis, kemudian Robin memperkenalkan Syahrial kepada pengacara Maskur Husein untuk membantu permasalahan Syahrial.

Lalu, ketiganya sepakat dengan fee sebesar Rp.1,5 miliar agar Robin membantu kasus dugaan korupsi di Pemkot Tanjung Balai tak diteruskan oleh KPK. Dari kesepakatan fee tersebut, Syahrial telah memberikan Rp.1,3 miliar, baik secara cash maupun transfer.

Selain itu, pembuat rekening penampung uang suap dilakukan sejak 2020 atas inisiatif Maskur. Bukan hanya suap dari Syahrial, KPK menduga Robin dan Maskur juga menerima suap dari pihak lain.

Related posts

banner 468x60

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *